Sports Arena – Mike Tyson pernah mengalami kejatuhan finansial yang dramatis sebelum akhirnya bangkit dan membangun kembali kekayaannya. Setelah dinyatakan bangkrut pada 2003, mantan juara dunia tinju kelas berat itu kini memiliki kekayaan yang diperkirakan mencapai USD50 juta atau sekitar Rp770 miliar.
Saat berada di puncak kariernya, Tyson memiliki kekayaan sekitar USD300 juta (Rp4,6 triliun) dari berbagai kemenangan di ring tinju. Namun, gaya hidupnya yang boros, ditambah dengan masalah hukum dan pajak, membuatnya kehilangan hampir seluruh hartanya.
Pada 2003, Tyson terpaksa mengajukan kebangkrutan setelah terlilit utang jutaan dolar, termasuk pajak yang belum dibayarkan ke Internal Revenue Service (IRS). Kala itu, Tyson dikenal karena gaya hidup mewahnya, menghabiskan uang untuk rumah-rumah megah, mobil-mobil mahal, dan perhiasan.
- Rans Simba Bogor Resmi Melepas Thomas De Thaey
- Apriyani Rahayu Kini Diduetkan dengan Febi Setianingrum
- Marc Marquez Malah Bersyukur Gagal Finis di MotoGP Amerika
Namun, kegagalan itu menjadi titik balik. Alih-alih terus terpuruk, “Iron Mike” mulai membangun kembali kekayaannya dengan berbagai bisnis dan proyek media.
Bisnis Ganja

Salah satu langkah bisnis paling sukses yang diambil Tyson adalah memasuki industri ganja. Ia mulai merintis bisnis ini pada 2015, tepat sebelum legalisasi ganja di California pada 2016.
Pada 2021, ia meluncurkan perusahaan TYSON 2.0, yang menjual berbagai produk berbasis ganja, termasuk permen karet berbentuk telinga bernama “Mike Bites”, terinspirasi dari insiden gigitannya terhadap Evander Holyfield pada 1997.
Selain itu, Tyson juga mengembangkan resor ganja seluas 420 hektare di Palm Springs, California, tempat para pengunjung bisa bersantai sambil menikmati produknya. Keputusan bisnis ini terbukti menguntungkan, mengingat industri ganja di California mencatatkan penjualan sebesar USD5,2 miliar (Rp80 triliun) pada 2023.
Kebangkitan Tyson juga mendapat dorongan besar dari kembalinya ia ke dunia tinju dalam laga eksibisi. Pada November 2024, ia menghadapi Jake Paul, seorang influencer yang beralih menjadi petinju profesional.
Pertandingan yang disiarkan langsung di Netflix itu mencetak rekor dengan 108 juta penonton, meskipun banyak yang mengeluhkan kualitas siarannya.
Tyson dan Paul masing-masing dikabarkan menerima bayaran sekitar 40 juta poundsterling (Rp800 miliar). Meski kalah dalam pertarungan tersebut, duel ini semakin memperkuat popularitas dan stabilitas keuangan Tyson.
Podcast dan Media Digital

Selain bisnis dan tinju, Tyson juga sukses di dunia media. Podcast “Hotboxin’ with Mike Tyson” yang ia luncurkan di YouTube telah mengumpulkan 3,8 juta subscriber hingga Januari 2025, dengan total 428 juta penayangan dari 231 videonya.
Podcast ini menjadi salah satu sumber pendapatan tetap bagi Tyson, sekaligus menjaga relevansinya di dunia hiburan dan olahraga. Kini, Mike Tyson menikmati kehidupan yang lebih sederhana di Las Vegas bersama keluarganya.
Berbeda dengan masa lalu yang penuh dengan pemborosan, Tyson kini lebih fokus pada bisnis dan investasi. Dari seorang petinju yang pernah jatuh ke titik terendah dalam hidupnya, Tyson telah membuktikan bahwa ia mampu bangkit kembali dan membangun kembali kekayaannya dengan kecerdasan bisnis, bukan hanya kekuatan di atas ring.
Dengan ekspansi bisnis ganja yang terus berkembang dan popularitasnya yang tetap tinggi, diperkirakan kekayaan Tyson akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Dapatkan sejumlah berita terkini setiap harinya hanya di Sports Arena, dan jangan lupa follow sejumlah akun media sosial kami; Instagram, Twitter dan TikTok.